Sejarah yang melegenda di kalangan masyarakat pesisir Kalimantan Selatan dan Tengah menyimpan kisah dahsyat yang terjadi lebih dari sembilan dekade silam.
Pada tahun 1933, dua desa di muara Sungai Kapuas Murung, yaitu Batanjung dan Lupak, diguncang peristiwa luar biasa yang masih dikenang hingga kini: amukan buaya yang memakan banyak korban jiwa, hingga membuat sebagian besar warga harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Kedua desa tersebut terletak sangat dekat dengan Laut Jawa, sehingga kehidupan masyarakatnya memang tidak lepas dari perairan.
Namun, bencana yang terjadi pada tahun itu jauh melampaui bahaya biasa yang biasa mereka hadapi.
Kisah yang dituturkan secara turun-temurun menyebutkan, segalanya bermula dari kedatangan seorang perantau bernama Datu Jalal.
Berasal dari Kelua, yang kini masuk wilayah Kabupaten Tabalong, pria itu datang ke Kapuas Murung tanpa tujuan bekerja maupun membina keluarga.
Datu Jalal lebih dikenal sebagai pengemis yang kerap dipandang aneh dan kurang waras tinggal di mana saja, berpakaian compang-camping, dan selalu mengenakan sorban kuning.
Karena tingkah lakunya yang dianggap tidak lazim, Datu Jalal mulai dianggap mengganggu ketenteraman warga. Puncaknya, dia dituduh mencuri makanan milik penduduk.
Atas perbuatannya itu, Datu Jalal dihajar dan dihukum oleh masyarakat. Dengan susah payah dia berhasil meloloskan diri, lari menuju tepi pantai, lalu naik ke perahunya yang sederhana dan mendayung ke tengah sungai.
Sambil terus mengomel, Datu Jalal mondar-mandir melintasi perairan antara Batanjung dan Lupak.
Di tengah arus, dia melepas sorban kuning yang melilit di kepalanya, lalu memutar-mutar kain panjang itu dengan tangannya di atas perahu.
Tak lama kemudian, alam seketika berubah: angin ribut menerjang pantai, awan gelap menutup langit, dan halilintar menyambar-nyambar dengan menakutkan.
Namun, suasana mencekam itu hanya berlangsung sesaat, sebelum akhirnya tenang kembali seperti sediakala, dan Datu Jalal pun hilang tanpa jejak, tak pernah terdengar kabarnya lagi.
Warga desa mengira kedatangan Datu Jalal dan kegemparan yang ditimbulkannya telah berakhir bersamaan dengan kepergiannya. Namun, dugaan itu salah.
Segera setelah itu, bencana yang jauh lebih mengerikan mulai terjadi: satu per satu penduduk menjadi korban buaya.
Setiap harinya ada saja orang yang hilang atau tewas disambar hewan buas itu, hingga suasana di Batanjung dan Lupak menjadi sangat tidak aman.
Ratusan warga pun akhirnya memilih mengungsi dan merantau ke daerah lain demi keselamatan.
Kabar tentang bencana yang menimpa dua desa itu akhirnya sampai ke telinga Datu Jafar, seorang tokoh sakti yang juga berasal dari Kelua.
Setelah datang dan meneliti keadaan, Datu Jafar menyatakan bahwa yang mengganggu adalah tiga ekor buaya siluman masing-masing berwarna kuning dengan dua ekor, putih, dan hitam.
Dia pun bersedia membantu, dan terjadilah pertarungan gaib yang hebat antara Datu Jafar dan ketiga makhluk tersebut.
Setelah berjuang keras, Datu Jafar berhasil menaklukkan mereka: buaya kuning dibunuh di wilayah Lupak, buaya putih yang sempat berubah wujud menjadi ular sawa pun dilumpuhkan, dan buaya hitam yang paling tangguh akhirnya tewas pula.
Berkat keberhasilan itu, keamanan dan ketenteraman kembali terjalin, dan warga yang sempat mengungsi pun mulai berdatangan pulang.
Sebagai langkah agar kedamaian itu tetap terjaga, Datu Jafar berpesan agar masyarakat mengadakan upacara atau ritual khusus setiap tahunnya.
Dia melepas tiga ekor buaya sebagai penjaga wilayah, dan meminta agar mereka diberi persembahan berupa seekor ayam hitam serta 40 jenis makanan lainnya.
Hingga saat ini, pesan itu masih dipegang teguh oleh warga Batanjung dan Lupak upacara pemberian makan untuk buaya penjaga terus dilaksanakan sebagai wujud rasa terima kasih, sekaligus pengingat atas peristiwa bersejarah yang pernah mengguncang tanah mereka.
Warisan sejarah yang masih hidup di Batanjung dan Lupak
Sejak peristiwa dahsyat tahun 1933 lalu, upacara yang diamanatkan oleh Datu Jafar menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di kedua desa ini.
Bagi warga, ritual ini bukan sekadar adat, melainkan bentuk rasa syukur, penghormatan, dan janji yang dijaga dari generasi ke generasi.
Waktu dan Penyelenggaraan
Upacara ini diadakan secara rutin setiap tahunnya, biasanya dipilih waktu yang dianggap baik dan tepat menurut pertimbangan tokoh adat dan sesepuh desa.
Pelaksanaannya dilakukan di tepi perairan, tepatnya di lokasi-lokasi yang dianggap keramat dan menjadi tempat bersemayamnya ketiga buaya penjaga yang ditinggalkan Datu Jafar.
Semua warga berpartisipasi, baik dalam menyiapkan keperluan maupun ikut hadir dalam prosesinya, karena dipercaya bahwa keikutsertaan bersama akan menjaga keselamatan dan kedamaian seluruh kampung.
Isi dan persiapan ritual
Sesuai pesan yang ditinggalkan, persembahan yang disiapkan harus lengkap: seekor ayam hitam sebagai salah satu syarat utama, dan 40 jenis makanan yang beragam mulai dari nasi, lauk-pauk, kue-kue tradisional, hingga buah-buahan.
Semua makanan disusun dengan rapi di atas wadah khusus, lalu dibawa ke tepi sungai atau pantai.
Dipimpin oleh tokoh adat, prosesi diawali dengan doa dan permohonan agar ketiga buaya penjaga senantiasa menjaga wilayah, menjauhkan malapetaka, dan memberikan rezeki kepada seluruh penduduk.
Setelah itu, persembahan tersebut diletakkan di tempat yang telah ditentukan, sebagian ada yang dihanyutkan ke dalam air sebagai tanda diserahkan kepada para penjaga alam.
Makna yang terkandung
Bagi masyarakat setempat, tradisi ini memiliki makna yang dalam. Selain untuk memenuhi pesan Datu Jafar, ritual ini juga menjadi pengingat bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam dan makhluk yang ada di dalamnya.
Mereka percaya, selama tradisi ini terus dijaga dan dilaksanakan dengan penuh ketulusan, maka peristiwa mengerikan seperti amukan buaya di tahun 1933 tidak akan terulang kembali.
Hingga kini, tidak ada satu pun generasi yang berani melalaikan tradisi ini. Dia menjadi ikatan yang mempersatukan warga, sekaligus bukti nyata bagaimana sebuah peristiwa sejarah membentuk budaya dan cara hidup masyarakat pesisir Kapuas Murung.
Bagaimana Kisah Datu Jalal dan Datu Jafar terjaga hingga kini
Di Batanjung dan Lupak, cerita tentang peristiwa tahun 1933 tidak pernah tertulis rapi dalam buku sejarah.
Peristiwa ini sendiri, pernah dikisahkan Syamsuddin Rudiannoor Kepala Desa Bentanjung dan warga setempat, dan dipublikasikan disalah satu media online, beberapa waktu lalu.
Kisah ini hidup dan terjaga berkat cara penuturan turun-temurun yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Bagi mereka, menuturkan kisah ini bukan sekadar bercerita, melainkan cara mewariskan identitas, nilai, dan janji leluhur kepada anak cucu.
Waktu dan tempat penuturan
Biasanya, kisah ini diceritakan pada waktu-waktu santai, seperti malam hari saat berkumpul di beranda rumah, atau saat warga sedang bekerja bersama di kebun, di tepi sungai, atau setelah selesai melaksanakan kegiatan adat.
Penuturnya adalah para sesepuh dan tokoh masyarakat orang-orang yang dianggap paham dan dipercaya, karena mereka menerima cerita ini dari orang tua dan kakek nenek mereka sebelumnya.
Suasana saat bercerita pun selalu terasa khidmat. Anak-anak dan orang dewasa berkumpul dengan tenang, mendengarkan dengan saksama, seolah-olah mereka dibawa kembali ke masa itu dan melihat sendiri apa yang terjadi.
Tidak jarang, sesepuh berpesan agar kisah ini terus diingat dan disampaikan kepada generasi berikutnya, agar tidak hilang ditelan waktu.
Gaya dan cara bercerita
Para penutur tidak hanya menyampaikan rangkaian peristiwa saja, tapi juga menambahkan gambaran yang hidup agar pendengar bisa membayangkan situasinya.
Mereka akan menceritakan bagaimana rupa Datu Jalal dengan sorban kuningnya, betapa dahsyatnya angin dan petir saat ia mengamuk, betapa takutnya warga saat diserang buaya, hingga betapa hebatnya pertarungan gaib antara Datu Jafar dan ketiga buaya siluman.
Terkadang, ada sedikit perbedaan di antara versi cerita yang disampaikan oleh orang yang berbeda ada yang menambahkan sedikit rincian, ada yang menekankan bagian tertentu.
Namun inti ceritanya selalu sama: mulai dari kedatangan Datu Jalal, bencana yang menimpa desa, datangnya pertolongan Datu Jafar, hingga pesan untuk melaksanakan upacara setiap tahunnya.
Perbedaan kecil itu justru membuat cerita semakin hidup dan menjadi ciri khas dari setiap penuturnya.
Makna di balik penuturan
Bagi masyarakat setempat, menuturkan dan mendengarkan kisah ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar hiburan.
Ini adalah cara mereka mengajarkan anak-anak tentang pentingnya bersikap baik kepada sesama, menghormati orang lain, dan menjaga keselarasan dengan alam.
Kisah ini juga mengingatkan mereka bahwa apa yang ada sekarang kedamaian dan keselamatan adalah anugerah yang harus dijaga, baik melalui tradisi maupun melalui perilaku sehari-hari.
Karena itulah, meskipun zaman terus berubah dan teknologi masuk ke desa-desa itu, tradisi bercerita ini tetap dijaga.
Anak-anak yang dulu mendengarkan dari kakek nenek mereka, kini tumbuh dewasa dan menjadi penutur bagi anak-anak mereka sendiri, sehingga kisah bersejarah ini terus hidup dan tidak akan pernah hilang.
Tempat-tempat Keramat di Batanjung dan Lupak: Saksi bisu kisah masa lalu
Tidak hanya hidup dalam cerita dan tradisi, kisah Datu Jalal dan Datu Jafar juga melekat pada sejumlah lokasi di kedua desa ini.
Tempat-tempat ini dianggap keramat, dipercaya memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa tahun 1933, dan selalu dihormati oleh seluruh warga.
Lokasi pertemuan dan peristiwa Datu Jalal
Ada titik tertentu di tepian Sungai Kapuas Murung yang disebut sebagai tempat Datu Jalal naik ke perahunya saat melarikan diri, serta tempat dia berdiri di atas perahu sambil memutar sorban kuningnya hingga menimbulkan angin ribut.
Di tempat ini, warga selalu bersikap hati-hati. Tidak ada yang berani berbuat sembarangan, apalagi membuat keributan atau bertindak tidak sopan, karena dipercaya akan mengganggu ketenangan dan memancing hal-hal yang tidak diinginkan.
Lokasi pertarungan dan penaklukan buaya
Tempat yang paling dikenal adalah di wilayah Lupak, yang menjadi lokasi tewasnya buaya kuning berbuntut dua—yang dianggap sebagai pemimpin dari ketiga buaya siluman itu.
Di sana terdapat bagian sungai yang airnya terlihat tenang namun dalam, yang hingga kini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah buaya tersebut.
Selain itu, ada juga lokasi di perairan antara Batanjung dan Lupak yang disebut sebagai tempat Datu Jafar melumpuhkan buaya putih yang sempat berubah menjadi ular sawa, serta tempat tewasnya buaya hitam yang paling tangguh.
Lokasi-lokasi ini menjadi tempat utama pelaksanaan upacara pemberian makan buaya setiap tahunnya, karena dianggap sebagai tempat yang paling dekat dengan para penjaga alam.
Pulau Gabang
Pulau kecil yang terletak tidak jauh dari kedua desa ini juga memiliki tempat tersendiri dalam kisah tersebut.
Saat Datu Jalal mengamuk, angin ribut yang ditimbulkannya pertama kali menerjang pantai Pulau Gabang sebelum bergerak ke Batanjung dan Lupak.
Hingga kini, pulau ini jarang dikunjungi orang sembarangan, dan warga selalu mengingatkan agar tidak mengambil sesuatu dari pulau itu, karena dianggap milik para penghuni gaib yang menjaga wilayah tersebut.
Sikap warga terhadap tempat-tempat keramat
Bagi masyarakat setempat, tempat-tempat ini bukan sekadar tanda geografis, melainkan bagian dari identitas dan sejarah mereka.
Saat melewatinya, baik dengan berjalan kaki maupun naik perahu, warga biasanya akan membaca doa atau mengucapkan salam sebagai tanda penghormatan.
Mereka percaya, dengan menjaga sikap dan menghormati tempat-tempat ini, maka mereka akan selalu dilindungi dan dijauhkan dari bahaya, sama seperti yang telah dijanjikan oleh Datu Jafar berpuluh tahun silam.
Pantangan dan aturan khusus: Pedoman hidup warga Batanjung dan Lupak
Sebagai bagian dari warisan sejarah dan kepercayaan yang tumbuh sejak peristiwa tahun 1933, masyarakat di kedua desa ini memegang teguh sejumlah pantangan dan aturan khusus.
Bagi mereka, ini bukan sekadar larangan biasa, melainkan janji yang harus dipenuhi untuk menjaga keselamatan diri sendiri, keluarga, dan seluruh kampung.
Pantangan di perairan
Karena kisah ini berpusat di sungai dan pantai, sebagian besar aturan berlaku saat warga beraktivitas di air.
Salah satu yang paling utama adalah dilarang keras bersikap kasar, berteriak-teriak, atau membuat keributan saat berada di atas perahu atau di tepi sungai, apalagi di tempat-tempat yang dianggap keramat.
Hal ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan, agar tidak mengganggu ketenangan para penjaga yang tinggal di dalam air.
Selain itu, ada larangan untuk mengambil atau mengganggu makhluk air tertentu, serta dilarang membuang sampah sembarangan ke dalam sungai atau laut.
Warga juga diajarkan untuk tidak pernah memanggil-manggil atau mengejek buaya, karena dipercaya bisa memancing kemarahan mereka.
Jika harus beraktivitas di air, biasanya mereka akan memulai dengan membaca doa atau mengucapkan salam sebagai tanda izin dan penghormatan.
Pantangan dan aturan dalam kehidupan sehari-hari
Tidak hanya di perairan, ada juga aturan yang berlaku di daratan. Misalnya, dilarang membawa barang-barang dari tempat keramat baik itu batu, kayu, atau apa pun karena dianggap milik para penghuni gaib dan mengambilnya bisa mendatangkan bencana.
Ada juga aturan tentang sikap terhadap sesama. Berawal dari kisah Datu Jalal yang dianiaya karena dianggap aneh, warga diajarkan untuk tidak membeda-bedakan orang, tidak menyakiti, dan tidak mempermalukan orang lain, meskipun orang itu memiliki tingkah laku yang berbeda atau sulit dipahami.
Mereka percaya, sikap yang baik dan rukun antarwarga adalah salah satu kunci agar kedamaian selalu terjaga.
Mengapa pantangan ini tetap dijaga?
Bagi generasi sekarang, meskipun banyak dari mereka telah bersekolah dan mengikuti perkembangan zaman, pantangan-pantangan ini tetap dianggap penting.
Mereka melihatnya bukan hanya sebagai kepercayaan semata, tapi juga sebagai cara untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, menjaga kelestarian alam, dan memelihara keharmonisan antarmanusia.
Selama ini, mereka percaya bahwa dengan mematuhi semua aturan dan melaksanakan kewajiban mereka seperti mengadakan upacara tahunan dan bersikap hormat, maka janji Datu Jafar akan terus berlaku, dan peristiwa mengerikan yang terjadi di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi.
Lebih dari sekadar penyelamat: Kisah-kisah lain tentang Datu Jafar
Bagi masyarakat Batanjung, Lupak, dan juga daerah asalnya di Kelua, Datu Jafar bukan hanya dikenal sebagai orang yang mengusir malapetaka buaya siluman.
Namanya hidup dalam banyak cerita rakyat lain yang beredar luas, yang menggambarkan beliau sebagai tokoh sakti, bijaksana, dan selalu hadir untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan.
Berikut adalah beberapa kisah yang juga sering dituturkan dari generasi ke generasi:
Membuka jalan dan membuka tanah
Diceritakan, jauh sebelum peristiwa di Batanjung dan Lupak, Datu Jafar telah dikenal luas di wilayah Kalimantan Selatan.
Beliau sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain, dan di mana pun beliau berada, selalu ada kebaikan yang ditinggalkan.
Salah satu kisah yang paling terkenal adalah tentang bagaimana beliau membantu membuka wilayah pemukiman dan lahan pertanian.
Dikatakan, ada daerah yang dulunya dipenuhi hutan belantara yang lebat, banyak dihuni binatang buas, dan sulit dimasuki manusia.
Ketika warga datang meminta pertolongan, Datu Jafar hanya berjalan mengelilingi daerah itu sambil membaca doa-doa.
Ajaibnya, semak belukar akan terbuka dengan sendirinya, hewan-hewan buas akan pergi menjauh, dan tanahnya menjadi subur serta cocok untuk dijadikan tempat tinggal atau bertani.
Karena itulah, banyak masyarakat yang menganggap beliau sebagai salah satu pelopor pembangunan dan penyebaran kesejahteraan di daerah ini.
Kekuatan yang digunakan untuk kebaikan
Selain sakti, Datu Jafar juga dikenal sebagai orang yang sangat rendah hati dan tidak pernah menyombongkan kemampuannya.
Ada kisah yang menceritakan bahwa suatu kali beliau bertemu dengan sekelompok orang yang meragukan kesaktiannya dan menantang beliau untuk membuktikannya.
Tanpa marah atau melakukan hal yang berlebihan, Datu Jafar hanya meletakkan sebilah tongkatnya di atas permukaan air sungai.
Apa yang terjadi? Tongkat itu tidak tenggelam, malah berjalan mengikuti arah yang beliau tunjukkan, seolah-olah ada yang mengangkat dan menggerakkannya.
Namun, hal yang paling membuat orang-orang kagum adalah pesan yang beliau sampaikan sesudahnya.
Beliau berkata bahwa kesaktian itu bukan untuk dibanggakan atau digunakan untuk menguasai orang lain, melainkan hanya untuk membantu sesama dan menjaga kebenaran.
Karena itulah, sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah meminta imbalan apa pun atas semua pertolongan yang diberikan.
Beliau hanya meminta satu hal: agar orang-orang yang dibantunya senantiasa berbuat baik, saling tolong-menolong, dan menghormati sesama makhluk serta alam semesta.
Kisah akhir hayatnya
Tidak banyak yang mengetahui secara pasti di mana dan kapan Datu Jafar menghembuskan napas terakhirnya.
Ada yang mengatakan bahwa beliau kembali ke Kelua dan menghabiskan sisa hidupnya di sana, terus mengajarkan kebaikan kepada anak cucu.
Ada juga yang bercerita bahwa beliau, masih keluarga dekat dengan Sultan Kerajaan Banjar Kalimantan Selatan.
Namun, di mana pun beliau berada, bagi masyarakat setempat, Datu Jafar tidak pernah benar-benar pergi.
Beliau dianggap sebagai pelindung yang senantiasa mengawasi dan menjaga wilayahnya.
kisah dan warisan yang ditinggalkannya bukan hanya legenda, tapi bukti nyata bagaimana peristiwa masa lalu membentuk budaya, nilai persaudaraan kepada siapa saja yang ditemuinya.
Dengan begitu banyak kisah yang beredar, Datu Jafar menjadi salah satu tokoh legendaris yang paling dihormati di Kalimantan Selatan. (Penulis Muji Setawan,Sos)
Diambil dari berbagai sumber